| |
SMA KATOLIK STELLA MARIS TEMPO DULU DAN SEKARANG
"Alangkah Baik Tuhan Yang Mahabaik" inilah semangat St. Yulia Billiart. Seorang Santa pecinta kaum muda yang sangat peduli terhadap pembinaan generasi muda, juga menjadi ibu rohani para Suster Kongregasi Santa Perawan Maria yang berpusat di Jalan Dr. Moh. Saleh 25 Probolinggo. Dijiwai dan dikobarkan oleh semangat St. Yulia Billiart inilah para suster Santa Perawan Maria menanggapi kebutuhan akan pembinaan dan pendidikan generasi muda. Berawal dengan membuka karya persekolahan di Probolinggo kemudian diteruskan hampir pada setiap kota di Jawa Timur, lalu menanggapi kebutuhan di Jawa Tengah, Jakarta, Kalimantan, Papua, Philipina.
Suster Lucia Dipoyudo,SPM (alm) menerima tugas perutusan dari Kongregasi Suster SPM sebagai pioner sekaligus promotor tunggal pendirian SMA Katolik Stella Maris Surabaya. Suster Lucia telah berjuang dengan bekerja keras untuk mewujudkan keprihatinannya akan masa depan generasi muda Indonesia yang masih tak menentu waktu itu. Pada saat itu, Yayasan Santa Perawan Maria telah mengelolah Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Kecakapan dan Kepandaian Putri (SKKP), dan SMP Katolik Stella Maris.
Beliau memikirkan kemanakah lulusan SMP akan melanjutkan studinya?
Pada tanggal 25 Januari 1967 Aula susteran yang terletak di Jalan Kepanjen 5 Surabaya di tetapkan dan diresmikan sebagai tempat untuk menerima pelajaran bagi siswa lulusan SMP Stella Maris. Sebagai pimpinan sekolah pertama, Yayasan SPM menunjuk Bapak R.C. Sastrosunaryo yang kala itu seorang pensiunan Direktur SMA Negeri III Surabaya, dan sebagai Wakil Kepala Sekolah ditunjuklah Suster Lusia Dipoyudo, SPM. Kondisi yang sederhana dan apa adanya waktu itu mendorong para pengelola sekolah untuk memikirkan bagaimana memiliki gedung sekolah sendiri dan tidak terus menumpang di Aula susteran. Jumlah murid 108 orang, semuanya remaja putri, dibagi menjadi tiga kelas masing-masing kelas terdiri dari 36 siswi.
Nasib baik segera datang saat usai liburan Paskah sekitar April 1967. SMA Katolik Frateran mengulurkan tangan dengan meminjamkan beberapa ruang kelas yang baru selesai dibangunnya yang masih kosong kepada SMA Katolik Stella Maris. Para Frater menyampaikan niat baiknya dengan meminjamkan tiga ruang kelas. Di tempat ini siswi-siswi merasa dapat belajar dengan lebih baik dan lebih nyaman. Sebaliknya, pihak pengelola sekolah selama tahun 1967 itu harus memutar otak lebih keras lagi, karena usai tahun pelajaran berikutnya ketiga ruang kelas tersebut harus segera diserahkan kembali kepada pihak Frateran untuk digunakan menampung siswa-siswa barunya. Sehingga selama tahun tersebut pihak panitia harus berjuang keras untuk mewujudkan dimilikinya sebuah gedung baru milik sendiri.
Syukur kepada Tuhan, pertengahan Nopember 1967, beberapa bulan menjelang Tahun Pelajaran baru dimulai pihak pengelola akhirnya mencapai suatu keberhasilan yang disambut dengan sukacita oleh seluruh warga SMA Katolik Stella Maris dengan disepakatinya persetujuan antara pihak Panitia Pembangunan SMA Katolik Stella Maris dengan para penghuni Mess Media Sosial yang berlokasi di jalan Indrapura 32, yang sejak tahun 1948 telah menempati gedung sekolah Tarcicius.
|
|